Berbekal Kartu Askeskin ke Pekanbaru, Mega Pratiwi Cari Penyembuhan

•Agustus 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berbekal ASKESKIN ke Pekanbaru

* Bayi Penderita Hydrocepallus

* Sejak Lahir Tak diberi ASI

DUMAI, TRIBUN – Mega Pratiwi (4 bulan) penderita pembesaran kepala atau hydrocepallus, Senin (4/8) diberangkatkan ke Pekanbaru. Putri kelima pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk dilakukan operasi penyedotan cairan kepala. Sehari-harinya Mega hanya mampu terkapar di atas tempat tidur dan sulit untuk bergerak karena ukuran kepalanya terus bertambah. Ia pun tak mampu menggerak-gerakan tubuhnya, kedua boleh matanya hanya terlihat putih.

Senin (4/8) Tribun menyambangi Mega sebelum diberangkatkan ke Pekanbaru. Keluarga pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini menumpang di rumah keluarganya kelurahan Dumai kota. Di ruangan berukuran 4×5 ini bayi ini ditidurkan di atas tempat tidur. “Mega sedang tidur, makanya dia diam saja. Dia anaknya tidak cengeng, tak banyak tingkah, kalau lapar dan haus dia menangis, habis itu tidur lagi. Sehari-hari dia sulit bergerak, karena ukuran kepalanya terus membesar,” ungkap Erna.

Dikatakan Erna, sejak lahir, bayi perempuan ini telah memiliki tanda-tanda kelainan, ukuran kepalanya tidak normal. Saat dilahirkan secara cesar, lingkaran kepala Mega berukuran 42 centimeter dengan berat 3,33 kg, namun sekarang bertambah menjadi 52 centimeter. Melihat ada tanda-tanda kelainan, oleh dokter RSUD Dumai tempat ia dilahirkan, sang bayi disarankan dioperasi untuk menyedot cairan di kepalanya. Namun karena keterbatasan biaya membuat pasangan ini urung membawa putri mereka ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru. Sehari-harinya Nano bekerja serabutan sebagai buruh lepas, sementara Erna hanya berprofesi sebagai ibu RT. Sementara sebagian dari pendapatan suaminya bekerja serabutan digunakan untuk membeli susu untuk Mega.

Penderitaan yang dialami Mega ditambah lagi, sejak kecil ia tidak pernah diberi ASI ekslusif sebab, salah satu payudara Erna telah diangkat akibat kanker. Sehari-harinya bayi ini hanya diberi susu formula pas-pasan, karena keterbatasan ekonomi keluarga. “Sejak kecil dia tak pernah nyusu ke saya. Salah satu payudara saya sudah diangkat, karena kanker, saya juga takut kalo menyusukan Mega, nanti ketularan. Kelima anak saya tidak pernah menyusu badan,” imbuh wanita ini.

Melihat ukuran kepala Mega terus menerus bertambah membuat pihak keluarga mencari pinjaman, bahkan ongkos untuk ke Pekanbaru saja pasangan ini tidak punya. Mereka hanya bisa mengandalkan kartu ASKESKIN yang baru saja diperoleh. “Untuk makan saja tidak cukup, bagaimana mau mengobati Mega. Kami hanya mengandalkan ASKESKIN. Ya kalau ada orang yang mau membantu, kami sangat bersyukur sekali demi kesembuhan putri kami,” sebutnya lirih sambil mengusap kedua matanya.

Kepada Tribun, Nano mengaku sangat membutuhkan uluran tangan donatur untuk membantu kesembuhan putri mereka. “Bersyukur sekali, kalau ada donator yang mau membantu,” tandasnya.

Mega Dirujuk Ke RSUD Arifin Achmad

  • Bayi Penderita Hydrocepallus
  • Sejak Lahir Tak diberi ASI

DUMAI, TRIBUN – Mega Pratiwi (4 bulan) penderita pembesaran kepala atau hydrocepallus, Senin (4/8) diberangkatkan ke Pekanbaru. Putri kelima pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk dilakukan operasi penyedotan cairan kepala. Sehari-harinya Mega hanya mampu terkapar di atas tempat tidur dan sulit untuk bergerak karena ukuran kepalanya terus bertambah. Ia pun tak mampu menggerak-gerakan tubuhnya, kedua boleh matanya hanya terlihat putih.

Senin (4/8) Tribun menyambangi Mega sebelum diberangkatkan ke Pekanbaru. Keluarga pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini menumpang di rumah keluarganya kelurahan Dumai kota. Di ruangan berukuran 4×5 ini bayi ini ditidurkan di atas tempat tidur. “Mega sedang tidur, makanya dia diam saja. Dia anaknya tidak cengeng, tak banyak tingkah, kalau lapar dan haus dia menangis, habis itu tidur lagi. Sehari-hari dia sulit bergerak, karena ukuran kepalanya terus membesar,” ungkap Erna.

Dikatakan Erna, sejak lahir, bayi perempuan ini telah memiliki tanda-tanda kelainan, ukuran kepalanya tidak normal. Saat dilahirkan secara cesar, lingkaran kepala Mega berukuran 42 centimeter dengan berat 3,33 kg, namun sekarang bertambah menjadi 52 centimeter. Melihat ada tanda-tanda kelainan, oleh dokter RSUD Dumai tempat ia dilahirkan, sang bayi disarankan dioperasi untuk menyedot cairan di kepalanya. Namun karena keterbatasan biaya membuat pasangan ini urung membawa putri mereka ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru. Sehari-harinya Nano bekerja serabutan sebagai buruh lepas, sementara Erna hanya berprofesi sebagai ibu RT. Sementara sebagian dari pendapatan suaminya bekerja serabutan digunakan untuk membeli susu untuk Mega.

Penderitaan yang dialami Mega ditambah lagi, sejak kecil ia tidak pernah diberi ASI ekslusif sebab, salah satu payudara Erna telah diangkat akibat kanker. Sehari-harinya bayi ini hanya diberi susu formula pas-pasan, karena keterbatasan ekonomi keluarga. “Sejak kecil dia tak pernah nyusu ke saya. Salah satu payudara saya sudah diangkat, karena kanker, saya juga takut kalo menyusukan Mega, nanti ketularan. Kelima anak saya tidak pernah menyusu badan,” imbuh wanita ini.

Melihat ukuran kepala Mega terus menerus bertambah membuat pihak keluarga mencari pinjaman, bahkan ongkos untuk ke Pekanbaru saja pasangan ini tidak punya. Mereka hanya bisa mengandalkan kartu ASKESKIN yang baru saja diperoleh. “Untuk makan saja tidak cukup, bagaimana mau mengobati Mega. Kami hanya mengandalkan ASKESKIN. Ya kalau ada orang yang mau membantu, kami sangat bersyukur sekali demi kesembuhan putri kami,” sebutnya lirih sambil mengusap kedua matanya.

Kepada Tribun, Nano mengaku sangat membutuhkan uluran tangan donatur untuk membantu kesembuhan putri mereka. “Bersyukur sekali, kalau ada donator yang mau membantu,” tandasnya.

Bagi para pembaca sekalian yang ingin membantu atau menyisihkan uangnya sebagai tambahan biaya pengobatan bayi penderita hydrocepallus dari Dumai ini, bisa langsung menghubunginya ke RSUD Arifin Achmad. Sebab, Mega dirujuk oleh RSUD Dumai ke RSUD Arifin Achmad. (ema)

Riwayat ku

•Agustus 2, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

nannananan

Arti Sebuah Senyuman

•Oktober 9, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Senyum merupakan sebuah fenomena.  Allah telah menyempurnakan diri manusia dengan adanya bibir pada wajahnya.  Tidak semua orang yang memiliki bibir, pandai tersenyum, termasuk kita.

Senyum bisa menambah daya tarik.  Banyak wajah yang terlihat biasa saja, tetapi ketika tersenym seakan-akan wajahnya menjadi lebih menarik dan tampak lebih cantik.  Bandingkan bila wajah tersebut masam dan cemberut.  Wajah yang biasa saja, akan terlihat lebih buruk.  Orang yang wajahnya cantik sekalipun, bila senyum merupakan hal yang sulit dilakukan, kecantikannya tidak mampu membuat setiap orang tertarik.  Tetapi, walau ia hanya seorang nenek-nenek yang sudah keriput di makan usia dan ompong.  Namun, kalau tersenyum pasti terlihat berbeda.  Apalagi bila yang tersenyum adalah seorang anak dengan kepolosan pribadi dan tatapan bening kedua bola matanya.

Orang yang terbiasa tersenyum akan terhindar dari aneka penyakit ketegangan, sebab dengan senyuman mendorong hati menjadi ceria.  Akibatnya, selain menyehatkan dan menguatkan tubuh, juga akan membuat lebih awet muda.  Tersenyum hanya mengandalkan 17 otot wajah, sedangkan cemberut akan membuat 32 otot wajah menjadi tertarik.

Dengan senyuman membuat proses interaksi terasa lebih menyenangkan.  Rasa-rasanya tidak ada orang yang menolak bila diberi senyuman. Apalagi senyuman manis, tulus dan riang.  Senyum, bukan hanya gerak bibir semata, melainkan gerak rasa, gerak akal dan gerak hati yang mencerminkan pesona jiwa.  Perasaan kita tidak bisa dibohongi oleh senyuman yang ditujukan kepada kita, sensitivitasnya demikian peka untuk mengetahui jenis senyum yang ditampilkan oleh mitra hidup kita.

Laksana Perahu

•Oktober 9, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kita adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban.  Terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin.  Kesejatian kita adalah berlayar mengarungi samudera dan menembus badai.  Dan menemukan pantai harapan.  Dermaga adalah masa lalu kita dan tali penambat adalah ketakutan dan penyesalan kita.

Belum Ada Judul

•Oktober 9, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kelahiran adalah sebuah fakta cinta dan harapan.  Kepedihan, bahkan rasa sakit menjadi harga yang sangat pantas untuk masa depan yang lebih  baik.  Kelahiran adalah sebuah asa dan cinta atau sebaliknya juga pengorbanan.

Mabes kru TP

Senyuman

•Oktober 9, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tersenyumlah, karena senyuman akan meluluhkan banyak hal.  Ia menghangatkan kepalan tangan yang menggigil dan menyejukan dada yang membara.  Senyuman adalah bahasa bibir yang langsung mengetuk hati.  Karena tersenyum adalah sedekah termudah, terindah dan termurah yang bisa kita berikan.  Jangan sembunyikan itu di balik kebekuan hati kita.  Segarnya senyuman tak kalah dari segarnya matahari pagi.

Markas Besar Tribun Pekanbaru, pagi menjelang siang, 09 October 2007

Suka dan Duka

•Oktober 8, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kebungkaman yang meresahkan bagai sebuah irama yang tak dikenal.  Lihatlah ke lubuk hati ini, dimana sebuah helaan napas bagai sebuah tekanan jiwa.  Sebanyak yang dapat kau pahami bahwa hidup adalah perpaduan antara suka dan duka.  Ada kalanya kemarau, dan kadang ada pula musim semi.  Begitulah musim datang silih berganti.  Kadang ada tangis dan kadang ada gelak tawa, begitulah perpaduan antara suka dan duka.

Halo dunia!

•Oktober 8, 2007 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!