Berbekal ASKESKIN ke Pekanbaru
* Bayi Penderita Hydrocepallus
* Sejak Lahir Tak diberi ASI
DUMAI, TRIBUN – Mega Pratiwi (4 bulan) penderita pembesaran kepala atau hydrocepallus, Senin (4/8) diberangkatkan ke Pekanbaru. Putri kelima pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk dilakukan operasi penyedotan cairan kepala. Sehari-harinya Mega hanya mampu terkapar di atas tempat tidur dan sulit untuk bergerak karena ukuran kepalanya terus bertambah. Ia pun tak mampu menggerak-gerakan tubuhnya, kedua boleh matanya hanya terlihat putih.
Senin (4/8) Tribun menyambangi Mega sebelum diberangkatkan ke Pekanbaru. Keluarga pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini menumpang di rumah keluarganya kelurahan Dumai kota. Di ruangan berukuran 4×5 ini bayi ini ditidurkan di atas tempat tidur. “Mega sedang tidur, makanya dia diam saja. Dia anaknya tidak cengeng, tak banyak tingkah, kalau lapar dan haus dia menangis, habis itu tidur lagi. Sehari-hari dia sulit bergerak, karena ukuran kepalanya terus membesar,” ungkap Erna.
Dikatakan Erna, sejak lahir, bayi perempuan ini telah memiliki tanda-tanda kelainan, ukuran kepalanya tidak normal. Saat dilahirkan secara cesar, lingkaran kepala Mega berukuran 42 centimeter dengan berat 3,33 kg, namun sekarang bertambah menjadi 52 centimeter. Melihat ada tanda-tanda kelainan, oleh dokter RSUD Dumai tempat ia dilahirkan, sang bayi disarankan dioperasi untuk menyedot cairan di kepalanya. Namun karena keterbatasan biaya membuat pasangan ini urung membawa putri mereka ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru. Sehari-harinya Nano bekerja serabutan sebagai buruh lepas, sementara Erna hanya berprofesi sebagai ibu RT. Sementara sebagian dari pendapatan suaminya bekerja serabutan digunakan untuk membeli susu untuk Mega.
Penderitaan yang dialami Mega ditambah lagi, sejak kecil ia tidak pernah diberi ASI ekslusif sebab, salah satu payudara Erna telah diangkat akibat kanker. Sehari-harinya bayi ini hanya diberi susu formula pas-pasan, karena keterbatasan ekonomi keluarga. “Sejak kecil dia tak pernah nyusu ke saya. Salah satu payudara saya sudah diangkat, karena kanker, saya juga takut kalo menyusukan Mega, nanti ketularan. Kelima anak saya tidak pernah menyusu badan,” imbuh wanita ini.
Melihat ukuran kepala Mega terus menerus bertambah membuat pihak keluarga mencari pinjaman, bahkan ongkos untuk ke Pekanbaru saja pasangan ini tidak punya. Mereka hanya bisa mengandalkan kartu ASKESKIN yang baru saja diperoleh. “Untuk makan saja tidak cukup, bagaimana mau mengobati Mega. Kami hanya mengandalkan ASKESKIN. Ya kalau ada orang yang mau membantu, kami sangat bersyukur sekali demi kesembuhan putri kami,” sebutnya lirih sambil mengusap kedua matanya.
Kepada Tribun, Nano mengaku sangat membutuhkan uluran tangan donatur untuk membantu kesembuhan putri mereka. “Bersyukur sekali, kalau ada donator yang mau membantu,” tandasnya.
Mega Dirujuk Ke RSUD Arifin Achmad
- Bayi Penderita Hydrocepallus
- Sejak Lahir Tak diberi ASI
DUMAI, TRIBUN – Mega Pratiwi (4 bulan) penderita pembesaran kepala atau hydrocepallus, Senin (4/8) diberangkatkan ke Pekanbaru. Putri kelima pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk dilakukan operasi penyedotan cairan kepala. Sehari-harinya Mega hanya mampu terkapar di atas tempat tidur dan sulit untuk bergerak karena ukuran kepalanya terus bertambah. Ia pun tak mampu menggerak-gerakan tubuhnya, kedua boleh matanya hanya terlihat putih.
Senin (4/8) Tribun menyambangi Mega sebelum diberangkatkan ke Pekanbaru. Keluarga pasangan Ernawati (35) dan Nano Asmar (38) ini menumpang di rumah keluarganya kelurahan Dumai kota. Di ruangan berukuran 4×5 ini bayi ini ditidurkan di atas tempat tidur. “Mega sedang tidur, makanya dia diam saja. Dia anaknya tidak cengeng, tak banyak tingkah, kalau lapar dan haus dia menangis, habis itu tidur lagi. Sehari-hari dia sulit bergerak, karena ukuran kepalanya terus membesar,” ungkap Erna.
Dikatakan Erna, sejak lahir, bayi perempuan ini telah memiliki tanda-tanda kelainan, ukuran kepalanya tidak normal. Saat dilahirkan secara cesar, lingkaran kepala Mega berukuran 42 centimeter dengan berat 3,33 kg, namun sekarang bertambah menjadi 52 centimeter. Melihat ada tanda-tanda kelainan, oleh dokter RSUD Dumai tempat ia dilahirkan, sang bayi disarankan dioperasi untuk menyedot cairan di kepalanya. Namun karena keterbatasan biaya membuat pasangan ini urung membawa putri mereka ke RSUD Arifin Achmad di Pekanbaru. Sehari-harinya Nano bekerja serabutan sebagai buruh lepas, sementara Erna hanya berprofesi sebagai ibu RT. Sementara sebagian dari pendapatan suaminya bekerja serabutan digunakan untuk membeli susu untuk Mega.
Penderitaan yang dialami Mega ditambah lagi, sejak kecil ia tidak pernah diberi ASI ekslusif sebab, salah satu payudara Erna telah diangkat akibat kanker. Sehari-harinya bayi ini hanya diberi susu formula pas-pasan, karena keterbatasan ekonomi keluarga. “Sejak kecil dia tak pernah nyusu ke saya. Salah satu payudara saya sudah diangkat, karena kanker, saya juga takut kalo menyusukan Mega, nanti ketularan. Kelima anak saya tidak pernah menyusu badan,” imbuh wanita ini.
Melihat ukuran kepala Mega terus menerus bertambah membuat pihak keluarga mencari pinjaman, bahkan ongkos untuk ke Pekanbaru saja pasangan ini tidak punya. Mereka hanya bisa mengandalkan kartu ASKESKIN yang baru saja diperoleh. “Untuk makan saja tidak cukup, bagaimana mau mengobati Mega. Kami hanya mengandalkan ASKESKIN. Ya kalau ada orang yang mau membantu, kami sangat bersyukur sekali demi kesembuhan putri kami,” sebutnya lirih sambil mengusap kedua matanya.
Kepada Tribun, Nano mengaku sangat membutuhkan uluran tangan donatur untuk membantu kesembuhan putri mereka. “Bersyukur sekali, kalau ada donator yang mau membantu,” tandasnya.
Bagi para pembaca sekalian yang ingin membantu atau menyisihkan uangnya sebagai tambahan biaya pengobatan bayi penderita hydrocepallus dari Dumai ini, bisa langsung menghubunginya ke RSUD Arifin Achmad. Sebab, Mega dirujuk oleh RSUD Dumai ke RSUD Arifin Achmad. (ema)
